Kemenkes Minta Masyarakat Tak Pilih-pilih Vaksin

Jakarta, Berita55 — Jubir Vaksinasi Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mewanti-wanti agar masyarakat tidak membeda-bedakan atau sengaja memilih jenis dari produsen vaksin tertentu yang diinginkan.

Nadia meminta masyarakat menaruh kepercayaan secara penuh kepada pemerintah. Dia mengingatkan pemerintah telah menjamin hanya akan menyediakan vaksin virus corona (Covid-19) yang aman dan bermanfaat.

"Jadi tidak usah ragu-ragu untuk divaksinasi, tidak usah memilih-milih vaksin. Pemerintah akan memprioritaskan penggunaan jenis vaksin yang aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh, berdasarkan tentunya rekomendasi para ahli," kata Nadia dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Lawan Covid19 ID, Selasa (30/3).

Nadia menjelaskan tidak ada satu pun produsen vaksin di dunia ini yang dapat memenuhi seluruh permintaan negara-negara besar seperti Indonesia. Indonesia, lanjut dia, beruntung karena sudah menjalin kerja sama dengan empat produsen vaksin, yaitu Sinovac, Astrazeneca, Novavax, dan Pfizer.

Empat produsen vaksin itu akan digunakan untuk pemenuhan program vaksinasi nasional, sementara dua produsen vaksin dari Sinopharm dan Moderna akan digunakan untuk program vaksinasi gotong royong.

Nadia mengingatkan kepada masyarakat bahwa vaksin saat ini menjadi rebutan banyak negara yang masih belum mampu memproduksi vaksin covid-19 secara mandiri. Sehingga, ia meminta masyarakat yang sesuai kriteria sasaran vaksin untuk lekas mendatangi sentra vaksinasi atau fasilitas kesehatan yang telah ditentukan.

"Saya mendorong seluruh masyarakat, mari kita sukseskan vaksinasi covid-19, karena ini ditujukan untuk kita semua," pungkasnya.

Pemerintah sejauh ini telah berkomitmen mengamankan sekitar 426,8 juta dosis vaksin dari empat perusahaan farmasi luar negeri untuk vaksinasi 181,5 juta penduduk Indonesia.

Ratusan juta dosis vaksin itu digunakan untuk memenuhi program vaksinasi yang menyasar 181,5 juta penduduk Indonesia. Sasaran itu terbagi menjadi empat tahapan, yang pertama menyasar 1,4 juta tenaga kesehatan.

Disusul tahapan kedua yang menyasar 17,3 juta petugas pelayanan publik dan 21,5 juta lansia. Kemudian akan dilanjutkan vaksinasi tahapan ketiga yang menyasar 63,9 juta masyarakat rentan yang berada di daerah risiko tinggi penularan, serta 77,4 juta masyarakat lain yang disesuaikan dengan ketersediaan vaksin. (*)