Arab Saudi Tolak Dokumen Pembunuhan Khashoggi dari AS

Jakarta, Berita55 -- Arab Saudi menolak dokumen intelijen Amerika Serikat (AS) yang mengindikasikan bahwa Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman merestui pembunuhan jurnalis pengkritik kerajaan, Jamal Khashoggi pada 2018 lalu.

"Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sepenuhnya menolak penilaian negatif, salah, dan tidak dapat diterima dalam dokumen tersebut. Dokumen tersebut berisi informasi dan kesimpulan yang tidak akurat," tulis Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, dalam sebuah pernyataan, melansir AFP.

Dokumen tersebut menyimpulkan bahwa Pangeran Mohammed bin Salman menyetujui operasi penangkapan dan pembunuhan Khashoggi. Khashoggi dinyatakan tewas di dalam gedung konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki pada 2018 lalu.

"Sangat disayangkan atas hadirnya dokumen ini yang tidak akurat, sementara kerajaan dengan jelas mengecam kejahatan keji ini," tulis Kementerian Luar Negeri.

Kerajaan Arab Saudi, tulis pernyataan tersebut, menolak tindakan apa pun yang melanggar kedaulatan dan kemandirian sistem peradilannya.

Khashoggi, seorang kolumnis Washington Post yang kerap mengkritik Putra Mahkota, dibunuh di dalam gedung Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada 2018 lalu setelah sebelumnya sempat dinyatakan hilang.

Dokumen AS menyebutkan, mengingat pengaruh Pangeran Mohammed yang begitu besar, sangat tidak mungkin bahwa pembunuhan itu terjadi tanpa izin darinya.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken mengatakan bahwa AS ingin mengkalibrasi ulang tanpa bermaksud memutus hubungannya dengan Arab Saudi sebagai salah satu mitranya di kawasan Timur Tengah.

Meski marah atas dokumen tersebut, namun Arab Saudi tetap menegaskan bahwa pihaknya ingin menjaga hubungan.

"Kemitraan antara Arab Saudi dan Amerika Serikat adalah kemitraan yang kuat dan langgeng," tulis Kementerian Luar Negeri. (*)