13,8 Kg Sabu dan 2.994 Pil Ekstasi Siap Edar Digagalkan Polda Sulsel

Jumpa pers yang digelar Polda Sulsel dalam rilis kasus penggalan peredaran narkoba di Makassar, Kamis (24/9). (foto/ist)

Makassar, Berita55 -- Sebanyak 13,8 kg sabu dan 2994 butir pil ekstasi dipajang Polda Sulsel di atas meja konferensi pers sebagai barang bukti. Kamis (24/9).

Barang haram tersebut disita petugas setelah berhasil mengagalkan peredaran narkoba di Kota Makassar baru-baru ini.

Jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel juga berhasil mengamankan tiga orang tersangka, berinisial MA, AT dan MM yang dirigkus satu-persatu.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam menjelaskan butuh waktu empat hari untuk mengungkap praktik penyalahgunaan dan peredaran narkoba dalam jumlah besar ini.

Pengungkapan kasus berawal dari penangkapan MA dirumahnya, Jalan Bontosunggu, Kecamatan Tamalate. Minggu, (20/9).

Hasil interogasi awal, MA mengaku mendapatkan beberapa pil ekstasi, dari pria berinisial AT, yang tinggal tidak jauh dari kediaman MA.

"Di rumah tersangka kedua kita temukan satu buah dompet berwarna cokelat tiga saset sabu dan delapan saset berisi 57 butir ekstasi berlogo Barcelona. Serta sebuah handphone merek Xiaomi warna hitam," kata Merdisyam.

Hasil keterangan keduanya membawa polisi ke bandar mereka berinisial MM yang kemudian dibekuk di Jalan Prof Basalamah (eks Racing Center), Rabu (23/9).

Dari penangkapan itu, petugas menyita satu saset sabu dan tiga saset berisi 2.994 butir ekstasi berlogo Instagram.

"Ini pengungkapan cukup besar dari Polda Sulsel. Total barang bukti sabu yang kita amankan 13,856,0699 gram (13,8 kg) dan juga 2.994 butir pil ekstasi. Lalu tiga timbangan digital, handphone dan satu unit mobil. Semuanya dikuasai tiga orang pria asal Makassar," ujar Merdisyam.

Barang tersebut rencananya akan di edarakan di Makassar. Termasuk, ke daerah-daerah lainnya di Sulsel. Makanya, kata dia, pihaknya masih menyelidiki lebih dalam darimana sumber barang tersebut.

"Dari hasil sementara kita menemukan satu jaringan baru makanya ini dalam pengembangan kita. Termasuk, menyelidiki apakah mereka adalah bagian dari sindikat internasional lintas negara atau antar provinsi saja," jelas Merdisyam. (snc)