KBRI Yangon Didemo, Dubes Sebut WNI Aman

Jakarta, Berita55 -- Duta Besar Republik Indonesia di Yangon, Iza Fadri, menyatakan kondisi warga Indonesia (WNI) di Myanmar saat ini tetap aman dan tidak ada indikasi muncul sentimen negatif dari penduduk setempat terkait pemberitaan dukungan soal pemilu ulang.

"Kita sudah rutin berkomunikasi. (Sejauh ini WNI) Aman setelah kita temui dan jelaskan," kata Iza, Selasa (23/2).

Iza melanjutkan sampai saat ini belum ada WNI yang bermukim di Myanmar meminta bantuan untuk pemulangan, di tengah gejolak sosial politik usai kudeta.

"Sejauh ini belum ada walaupun penerbangan masih ada," ujar Iza.

Secara terpisah, Juru Bicara Kemenlu RI, Teuku Faizasyah, membantah laporan Reuters yang menyebut bahwa Indonesia tengah mencari dorongan negara ASEAN lainnya untuk mendukung Myanmar melakukan pemilihan umum ulang pasca kudeta.

Tiga sumber diplomatik yang mengetahui masalah ini mengatakan gagasan Indonesia tersebut telah mendapat dukungan kuat sejumlah negara.

Sumber itu juga menuturkan dalam proposalnya, Indonesia beranggapan bahwa mempertahankan junta militer berkuasa hingga pemilu baru berlangsung merupakan cara paling realistis membawa Myanmar kembali memiliki pemerintahan dengan sistem perwakilan.

Laporan itu memicu kecaman dan kritik dari banyak pihak, terutama warga Myanmar di media sosial. Sekelompok warga juga dilaporkan berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Indonesia di Myanmar untuk memprotes sikap Jakarta yang diduga mendukung pemilihan umum ulang yang diserukan militer negara tersebut.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan transisi Myanmar menuju demokrasi harus mengikuti keinginan rakyatnya terutama setelah kudeta militer yang berlangsung pada 1 Februari lalu. Dia menyatakan hal itu menanggapi laporan Reuters.

"Transisi demokrasi inklusif harus diupayakan sesuai dengan keinginan rakyat Myanmar. Jalan apa pun yang ditempuh di depan harus dilakukan untuk mencapai tujuan ini," kata Retno melalui pernyataan Kemlu RI kepada Reuters.

"Indonesia sangat prihatin dengan situasi di Myanmar dan mendukung rakyat Myanmar. Kesejahteraan dan keamanan masyarakat Myanmar menjadi prioritas nomor satu," kata dia menambahkan.

Retno meminta seluruh pihak "menahan diri secara maksimal untuk menghindari pertumpahan darah." (*)