Aksi Kekerasan Dosen Pria di UMI Terhadap Kaprodi Wanita Tuai Sorotan

Makassar, Berita55 -- Aksi kekerasan dosen pria kepada Kepala Prodi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Dr Hadawiah, menuai sorotan. Pihak kampus turun tangan menyelesaikan kasus kekerasan tersebut lewat penegakan kode etik.

Tindakan kekerasan dosen pria terhadap Hadawiah itu awalnya viral di media sosial. Polisi ikut menyelidiki video viral tersebut.

Dalam video yang viral, tampak seorang wanita berjilbab ungu yang disebut berstatus sebagai dosen. Dia terlihat terlibat cekcok mulut dengan seorang pria yang juga disebut berstatus dosen di kampus UMI Makassar, Panakkukang, Makassar.

Masih dalam video itu, cekcok mulut tersebut tampak semakin alot karena sang dosen wanita dan dosen pria tiba-tiba terlibat saling pukul. Sejumlah mahasiswa yang sejak awal berada di lokasi kemudian berusaha melerai.

"Memangnya kau siapa, saya tidak pernah urusi ko (saya tidak pernah mengurus urusanmu)," ujar dosen wanita dalam video.

Polisi mengaku telah menonton video viral tersebut. Hanya, sejauh ini belum ada laporan yang diterima kepolisian.

"Laporannya belum ada, tapi video itu akan kami coba selidiki," kata Kanit Reskrim Polsek Panakkukang Iptu Iqbal Usman, Senin (22/2/2021).

Kepala Prodi Studi Komunikasi di UMI, Hadawiah, buka suara terkait insiden pemukulan tersebut. Dia berharap kejadian itu menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

"Semoga ini menjadi pembelajaran bagi laki-laki yang melakukan kekerasan fisik pada perempuan apalagi dalam kampus," kata Hadawiah saat dikonfirmasi, Senin (22/2/2021).

"Kampus sebagai tempat membentuk karakter ternyata tidak menjadi bagian dari perhatian orang-orang melakukan hal-hal tidak sesuai etika seorang pendidik," imbuhnya.

Peristiwa penganiayaan yang dilakukan Muhajjir terhadap Hadawiyah ini terjadi pada Senin (22/2) di Prodi Ilmu Komunikasi UMI. Saat itu Hadawiyah tengah memberikan arahan kepada mahasiswanya.

"Dia (Muhajjir) tiba-tiba muncul dan minta saya masuk (ruangan). Saya bilang, kamu tidak boleh begini, saya selesaikan dulu pengarahan saya dengan mahasiswaku. Dia teriak terus, masuk, masuk, dia dorong saya, saya terpelanting masuk (ruangan)," ungkap Hadawiyah saat dimintai konfirmasi wartawan.

Saat dibentak dan didorong masuk ke ruangannya, Hadawiyah sempat meminta Muhajjir tidak mendorongnya. Dia juga mengingatkan Muhajjir bahwa dirinya seorang wanita. Bukannya sadar, Muhajjir malah terus menyerang Hadawiyah.

"Lalu dia tendang saya dan pukul saya dengan botol air minum. Mahasiswa yang melihat langsung tahan," katanya.

Tak sampai di situ, Hadawiyah yang berusaha menyelamatkan dirinya ke ruang dekan tetap dikejar Muhajjir. Hadawiyah berharap para pria ke depan tidak lagi dengan mudah melakukan kekerasan terhadap perempuan.

"Semoga ini menjadi pembelajaran bagi laki-laki yang melakukan kekerasan fisik pada perempuan, apalagi di dalam kampus," imbuhnya.

Hadawiyah mengungkapkan, sebelum peristiwa penganiayaan menimpa dirinya pada Senin (22/2) lalu, dia bersama sejumlah tenaga pengajar UMI sempat melakukan rapat daring. Dalam rapat itu, Muhajjir yang merupakan dosen di Prodi Sastra tiba-tiba menuliskan komentar di dalam chat room yang meminta Hadawiyah mundur dari jabatannya sebagai Kaprodi Ikom UMI.

"Semua orang punya persepsi, kata-kata itu adalah kata yang tidak bagus yang dia ucapkan, dan ini chat dan tidak ada prolognya. Saya akhirnya foto (komentar Muhajjir) dan kasih masuk di WA grup pimpinan," kata Hadawiyah.

Hadawiyah langsung menanyakan maksud komentar Muhajjir di dalam rapat daring itu. Secara khusus, dia menanyakan kepada Muhajjir hendak ingin maju sebagai pimpinan Prodi Komunikasi UMI. Atas pertanyaan itu, Muhajjir berkilah bahwa tidak ingin menduduki jabatan itu, tapi berkomentar ke Hadawiyah bahwa dia melihat Hadawiyah bekerja sendiri memimpin Prodi Komunikasi UMI.

Dalam perbincangannya dengan Muhajjir, Hadawiyah sudah merasa adanya ancaman yang terlontar dari tulisan Muhajjir kepadanya. Dalam tulisannya, Muhajjir meminta maaf dan menyebut akan ke kampus UMI untuk menemui Hadawiyah secara langsung. Dia langsung menanyakan apakah kalimat yang dilontarkan oleh Muhajjir mengandung unsur ancaman kepada dirinya.

"Dia menulis [minta maaf memang meka (saya), karena sebelum saya ke kampus. Saya bertanya apakah ini ancaman? Jangan sampai saya salah persepsi tetapi tidak jawab," terangnya.

Puncaknya pada Senin (22/2) kemarin, Hadawiyah yang saat itu sedang memberikan pengarahan di hadapan mahasiswa langsung dihardik oleh Muhajjir. Di hadapan mahasiswa, Muhajjir meminta Hadawiyah masuk ke ruangan dengan nada suara tinggi sehingga penganiayaan terjadi. (*)