Wagub DKI Jelaskan soal Data Banjir yang Tersebar di Medsos

Jakarta, Berita55 -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria buka suara soal data banjir dalam angka yang diunggah melalui akun Instagram maupun Twitter Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Data itu sebelumnya ramai diperbincangkan karena hanya mencantumkan data banjir pada 2002, 2007, 2013, 2015, 2020, dan 2021.

Riza pun mengklaim Pemprov DKI Jakarta sama sekali tidak bermaksud menyembunyikan informasi apapun. Hanya saja memang ia mengakui tidak mungkin untuk memaparkan keseluruhan data setiap tahun.

Ia menjelaskan, informasi yang diunggah belakangan itu hanya mencakup data banjir besar.

"Tidak ada data yang disembunyikan, semuanya sesuai data dan fakta, tidak mungkin setiap tahun dipaparkan," kata Riza di Balai Kota DKI, Senin (22/2) malam.

"Kalau teman-teman mau data setiap tahun, ada datanya, titik-titiknya ada semua lengkap silahkan cek di Kominfo dan SDA. Ini data yang ditampilkan data yang banjir besar, yang hujan-hujan ekstrem saja," lanjut dia.

Lebih lanjut, berdasarkan data yang dipaparkan Riza, terlihat pada 2002 areal yang tergenang banjir di Jakarta seluas 168 km persegi. Luasan tersebut meningkat pada 2007, dimana areal tergenang menjadi 455 km persegi.

Kemudian pada 2013, luas area yang tergenang adalah 240 km persegi, 2015 tergenang seluas 281 km persegi, pada 2020 tergenang 56 km persegi, dan 2021 seluas 4 km persegi.

Data yang dipaparkan Riza itu juga menunjukkan titik lokasi pengungsian saat banjir. Terlihat pada 2013 ada 1.250 titik pengungsian, pada 2015 ada 409 titik pengungsian, pada tahun 2020 ada 269 titik pengungsian, dan 2021 ada 44 titik pengungsian.

"Korban meninggal dari 2002 ada 32 korban meninggal, 2007 ada 48 korban meninggal, 2013 ada 40 orang meninggal, 2015 ada lima orang meninggal, 2020 ada 19 orang meninggal, 2021 ada lima orang meninggal," ucap dia.

Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta Atika Nur Rahmania menambahkan bahwa mulai 2021, DKI Jakarta telah memiliki peta berbasis RT yang memungkinkan masyarakat memantau wilayah tergenang dan luasan area tergenang.

Ia juga menyebut informasi banjir Jakarta, termasuk penanganan kejadian banjir besar juga dapat diakses melalui aplikasi Pantau Banjir atau situs pantau banjir.

Tak hanya itu, lanjut Atika, data banjir lintas tahun lengkap juga tersedia di aplikasi/situs tersebut, serta pada Portal Data Terbuka Pemprov DKI Jakarta melalui Jakarta Open Data.

"Terkait data, kami di Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk selalu terbuka kepada masyarakat. Masyarakat bisa mengakses informasi banjir secara real time melalui aplikasi Pantau Banjir," tutur Atika. (*)