Nakes Meninggal Usai Divaksin, Satgas Jamin Prosedur Skrining

Jakarta, Berita55 -- Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito memastikan proses skrining pada penerima vaksin Covid-19 sudah sesuai dengan prosedur dan standar yang diterapkan oleh Kementerian Kesehatan.

Pernyataan itu Wiku sampaikan merespons kabar seorang tenaga kesehatan (nakes) yang meninggal dengan status positif Covid-19 dua pekan setelah mendapat suntikan vaksin dosis pertama.

"Pada prinsipnya skrining yang dilakukan sebelum vaksinasi itu sudah ditetapkan sesuai standar operasional medis," kata Wiku, Selasa (23/2).

Guru Besar di bidang Kebijakan Sistem Kesehatan dan Penanggulangan Penyakit Infeksi Universitas Indonesia juga menegaskan, tahapan skrining telah sesuai dengan Keputusan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Nomor HK.02.01/4/1/2021 tentang Juknis Pelaksanaan Vaksinasi.

Dalam Juknis tersebut, penerima vaksinasi akan menjalani skrining kesehatan singkat oleh petugas di meja pelayanan dalam proses pemberian Vaksin Covid-19.

Selain menjalani beberapa pemeriksaan sederhana seperti pengukuran suhu tubuh dan tensi darah, peserta juga akan mengisi formulir yang terdiri dari 16 pertanyaan mengenai kondisi tubuh, riwayat penyakit, gejala penyakit yang diderita, serta kemungkinan kontak erat dengan suspek atau pasien positif Covid-19.

"Sebelum divaksinasi akan ada beberapa tahapan skrining di antaranya pemeriksaan pravaksinasi dan tanda vital tubuh, sesuai dengan juknis vaksinasi yang dikeluarkan Kemenkes," pungkasnya.

Diketahui seorang nakes meninggal di RSUD Ngudi Waluyo Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Erny Kusuma Sukma Dewi meninggal dunia akibat positif Covid-19 pada 14 Februari, tepat dua pekan setelah mendapat suntikan pertama vaksin pada 28 Januari.

Berdasarkan pemeriksaan PCR, Erny terkonfirmasi positif Covid-19. Diagnosis terakhirnya, Erny juga mengalami pneumonia, disseminated intravascular coagulation, dan obesitas. (*)