Larang Pelancong Indonesia Bisa Hambat Ekonomi Singapura

Jakarta, Berita55 -- Parlemen Singapura menyebut melarang masuk pelancong dari negara seperti India dan Indonesia akan berdampak pada perlambatan ekonomi dalam negeri.

Dampak tersebut, menurut Menteri Senior Kesehatan Singapura Koh Poh Koon mempengaruhi sendi-sendi kehidupan dan mata pencaharian banyak orang di Singapura.

"Jika kita menutup perbatasan kita terhadap mereka, banyak orang Singapura akan mendapatkan kesulitan, banyak keluarga akan mencari pengasuhan alternatif untuk orang yang mereka cintai. Beberapa pelancong adalah warga negara kami, penduduk tetap atau kerabat dekat mereka di sini," katanya kepada parlemen, Selasa (16/2) seperti dikutip dari The Straits Times.

Mereka termasuk pekerja konstruksi yang membangun rumah dan infrastruktur penting. Selain itu, para pekerja rumah tangga yang mendukung kebutuhan pengasuhan.

"Banyak para pekerja yang berasal dari Indonesia dan India," ucap Koh.

Daripada menutup perbatasan sepenuhnya, kata Koh, Singapura perlu mengadopsi pendekatan manajemen risiko mengenai arus masuk para pelancong. Hal itu ia sampaikan saat menanggapi anggota Parlemen Non-Konstituensi Progress Singapore Party, Leong Mun Wai.

Sebelumnya, Leong bertanya perihal keputusan pemerintah Singapura untuk tetap membuka perbatasan bagi para pelancong.

Leong menilai banyak kasus Covid-19 terdeteksi berasal dari kedua negara itu.

Sementara, Koh merasa Singapura membutuhkan arus masuk pekerja migran yang berkelanjutan untuk mendukung sektor ekonomi utama.

"Konektivitas internasional sangat penting bagi ekonomi dan kelangsungan hidup kita. Singapura tidak mampu menutup diri sepenuhnya dari dunia luar," ujarnya.

Koh menganjurkan para pekerja migran dan pengunjung harus menjalani tindakan pencegahan yang ketat, termasuk tes sebelum keberangkatan. Termasuk tes saat tiba di Singapura dan selama 14 hari isolasi di fasilitas khusus.

Mereka juga dites lagi sebelum menyelesaikan isolasi. Jika hasil tes negatif, mereka diizinkan untuk meninggalkan tempat isolasi.

Sebagai tindakan pencegahan tambahan, terang Koh, izin kerja bagi pekerja migran yang baru tiba dan pekerja Singapore Employment Pass (S Pass) di sektor konstruksi, kelautan, dan proses (CMP) diharuskan isolasi tambahan selama 7 hari. Kemudian tes di fasilitas yang ditentukan setelah Stay Home Notice (SHN) 14 hari.

Pekerja di sektor penerbangan, maritim, dan CMP juga perlu menjalani tes rutin setidaknya sekali, setiap 14 hari.

Bagi Koh, cara tersebut merupakan garis pertahanan untuk mendeteksi infeksi dini di tempat kerja berisiko tinggi.

"Ketika situasi global berkembang, gugus tugas multi kementerian akan terus meninjau langkah-langkah perbatasan kami untuk mencapai keseimbangan antara pertimbangan kesehatan masyarakat, kebutuhan masyarakat dan ekonomi."

Dalam tanggapan terpisah yang ditujukan pada Gan Thiam Poh (Ang Mo Kio GRC), Koh mengatakan sejak April tahun lalu, total kedatangan pengunjung di Singapura kurang dari satu persen.

Sebagian besar pengunjung itu terdiri dari wisatawan dari Malaysia, China, Indonesia dan India, yang sudah dilakukan tes dan hasil menunjukkan mereka positif Covid-19.

Singapura mencatat, proporsi kasus positif dari pendatang India sebesar 3, 7 persen, sementara Indonesia 1,6 persen.

Dari Malaysia dan China tercatat masing-masing 0,04 persen dan 0,01 persen.

Diketahui, berdasarkan data Worldometer, per Rabu (17/2) total kasus positif Covid-19 di India mencapai 10.949.546 orang dengan angka kematian 156.038 orang. Di Indonesia angka positif Covid-19 1.243.646 dengan 33.788 kematian.

China tercatat 89.795 orang terkonfirmasi positif dan total kematian 4.636. Malaysia melaporkan total positif Covid-19 272.163 dan angka kematian 1.005 orang. (*)