Makna Rabu Abu: Dari Debu akan Kembali Jadi Debu

Jakarta, Berita55 -- Rabu, 17 Februari 202, umat Katolik merayakan Rabu Abu. Mulai hari ini hingga 40 hari ke depan, umat memasuki masa pra-Paskah.

Masa pra-Paskah disebut juga sebagai masa pertobatan, yang ditandai dengan goresan abu di dahi umat.

Mengapa abu?

Merujuk pada kitab suci, abu menjadi tanda pertobatan di Kota Niniwe. Kitab Kejadian (Kej.2:7) berbunyi, "Ketika itu-lah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan mengembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikian-lah manusia itu menjadi makhluk yang hidup."

Dari sini, dapat dimaknai bahwa abu menjadi pengingat umat Katolik bahwa sejatinya manusia berasal dari debu tanah, dan suatu ketika akan tiada lalu kembali menjadi debu.

Mengutip dari situs resmi Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (Komkat KWI), abu juga menjadi tanda kerapuhan manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dosa sekaligus tanda pertobatan.

Dalam peringatan Rabu Abu, abu yang digunakan berasal dari pembakaran daun palma di hari Minggu Palma tahun lalu. Dalam perayaan ini, daun palma digunakan umat untuk menyambut Yesus yang masuk Kota Yerusalem. Daun palma diberkati kemudian disimpan hingga mengering dan dibakar jelang Rabu Abu tahun berikutnya.

Pastor atau prodiakon akan menggoreskan abu sembari berucap "Bertobat-lah dan percaya-lah pada Injil" atau "Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu".

Akan tetapi, pada peringatan tahun ini, tradisi Rabu Abu sedikit berbeda. Vatikan merilis panduan Rabu Abu 2021 yang menyebut bahwa para imam agar membersihkan tangan, mengenakan masker, dan membagikan abu pada mereka yang datang menghampiri. Atau, imam juga bisa mendatangi umat yang berdiri di tempat mereka masing-masing.

"Imam mengambil abu itu dan memercikkannya di kepala masing-masing [umat] tanpa mengatakan apa-apa," tulis catatan tersebut. (*)