Arab Saudi Tangkap Ulama Perempuan

Jakarta, Berita55 -- Otoritas Arab Saudi menangkap ulama perempuan ternama Aisha Al Muhajiri. Ia ditangkap oleh 20 anggota intelijen Saudi.

Aisha dilaporkan terus berdakwah dan mengajar Alquran di kediamannya di Mekkah.

Menurut Prisoners of Conscience yang melaporkan penangkapan dan penindasan pemerintah Saudi terhadap aktivis, Al Muhajiri ditangkap bersama tokoh masyarakat dan dua wanita lainnya.

"Satu dari dua perempuan itu berusia 80 tahun, sementara keluarga perempuan lain menolak untuk mengungkapkan informasi apapun tentangnya," ujar kelompok itu, seperti dilaporkan Middle East Monitor, Senin (15/2).

Setelah penangkapan tersebut, dilaporkan bahwa siapapun yang menanyakan penahanan atau dakwaan juga akan ditangkap, termasuk anak-anak Al-Muhajirri sendiri.

"Kami mengkonfirmasi bahwa anak-anak Asiha Al Muhajiri diancam dengan penahanan ketika mereka menanyakannya setelah dia ditangkap," ucap Prisoners of Conscience.

Pihak berwenang dilaporkan menyampaikan akan menangkap siapa pun yang menanyakan tentang Aisha Al-Muhajirri.

Kelompok itu menunjukkan bahwa Al-Muhajiri ditahan di Penjara Dhahban dekat pesisir Kota Jeddah.

Sejumlah aktivis, ulama dan yang mengkritik rezim Kerajaan Saudi telah ditangkap selama beberapa tahun terakhir. Bahkan ulama yang sangat dihormati pernah ditahan hanya karena mengomentari urusan kebijakan pemerintah.

Mereka yang pernah ditangkap adalah Aid Al- Qarani, Ali Al-Omari, Omar a- Muqbil, Salman al-Ouda. Banyak di antara mereka dikenal sebagai reformasi dan karenanya dianggap sebagai ancaman bagi penguasa Arab Saudi Putra Mahkota Mohammed Bin Salman.

Tindakan kerasnya terhadap para tokoh Muslim merupakan upaya mengekang pengaruh mereka di ruang publik. Inisiatif dan usaha keras yang dilakukan MBS untuk memodernisasi Kerajaan telah menjadi sasaran khusus para kritikus.

Bahkan para sarjana asing tidak lolos di bawah tindakan keras itu. Salah satu minoritas Muslim Uighur Aimidouka Waili dianiaya di China dan ditangkap oleh otoritas Saudi pada November lalu atas permintaan China.

Setelah penangkapan itu dia dilaporkan terancam dideportasi ke China. Sebelum ditahan di China, Waili sempat melarikan diri ke Turki. (*)