China Bantah Tuduhan AS Tutupi Data Corona dari Tim WHO

Jakarta, Berita55 -- Pemerintah China membantah tuduhan Amerika Serikat yang menuding tidak membuka data virus corona (Covid-19) kepada tim penyelidik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam pernyataan yang disampaikan Kedutaan Besar China di Washington D.C., mereka menyatakan pemerintah AS sudah merusak kerja sama dunia dalam menghadapi Covid-19, dan saat ini malah menuduh negara lain yang mendukung WHO serta lembaga itu.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (15/2), China mengatakan Amerika Serikat harus "berpegang teguh pada standar tertinggi, mengambil sikap yang serius, sungguh-sungguh, transparan dan bertanggung jawab, memikul tanggung jawab yang semestinya, mendukung pekerjaan WHO dengan tindakan nyata, dan memberikan kontribusi yang semestinya pada kerja sama internasional terkait COVID-19."

Anggota tim investigasi virus corona WHO, Peter Daszak, menyatakan pemerintah China sangat terbuka dalam memberikan akses terhadap data virus corona.

"Sebagai pimpinan kelompok tim yang meneliti hewan dan lingkungan, saya melihat pemerintah China sangat terbuka dan bisa dipercaya. Kami mendapat akses terhadap sejumlah data penting yang baru," cuit Daszak melalui Twitter.

Kemudian, seorang anggota tim WHO asal Denmark, Thea Koelsen Fischer, menyatakan pernyataan yang mereka sampaikan ditafsirkan keliru oleh media massa.

"Kami melakukan kerja sama yang baik dengan China dan tim epidemi internasional. Bahkan kami juga berdebat panas di dalam ruangan ketika menelaah data. Nampaknya pernyataan kami sengaja dipelintir sehingga menimbulkan keraguan atas kerja ilmiah kami," cuit Koelsen melalui Twitter.

Meski begitu, Koelsen Fischer mengakui bahwa mereka tidak bisa mengakses data mentah dan hanya disodorkan data hasil analisis dari para peneliti China. Namun, menurut dia hal itu lazim dilakukan di negara lain.

Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, mempertanyakan hasil penyelidikan asal-usul yang dilakukan tim WHO di Wuhan, China.

Dia menyoroti hasil kesimpulan awal penyelidikan WHO ke China yang gagal menjelaskan hewan perantara penyebaran Covid-19. Kunjungan WHO ke Wuhan dilakukan untuk mengetahui asal-usul virus corona di China.

Seorang ahli WHO, Peter Ben Embarek, menyatakan frustrasi atas kurangnya akses ke data mentah selama misi baru-baru ini ke China, mengatakan lebih banyak diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan kasus Covid awal.

Para ahli percaya, virus corona SARS-CoV-2 yang berasal dari kelelawar, menular kepada manusia lewat hewan perantara lain. Mereka menduga hewan perantara ini mamalia. Namun, tidak ditemukan bukti hewan mamalia jenis apa yang menjadi perantara Covid-19. (*)