Omzet Valentine Layu di Era Corona

Jakarta, Berita55 -- Semerbak wangi bunga mulai tercium di pintu masuk Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat. Setiap pengunjung dimanjakan dengan warna-warni berbagai macam kembang yang ditawarkan oleh penjual, mulai dari mawar, anggrek, krisan, dan sebagainya.

Sayangnya, wangi bunga itu tak seharum penjualannya. Dini (20), salah satu penjual, mengatakan penjualan bunga layu sejak pembatasan sosial akibat pandemi covid-19. Pengunjung yang menyambangi Pasar Bunga Rawa Belong pun berkurang secara drastis.

Layunya penjualan bunga masih berlanjut hingga menjelang perayaan Hari Valentine. Padahal, momentum hari kasih sayang itu biasanya mendorong penjualan kembang hingga 2 kali lipat lantaran banyak masyarakat memberikan bunga untuk orang terkasih.

Menurut Dini, momentum Hari Valentine kali ini tak mendongkrak penjualan bunga di pasar tersebut. Berbeda dari perayaan Valentine tahun lalu, dimana pembeli datang berbondong-bondong baik dari florist (perangkai bunga) hingga pembeli individu.

"Kalau dibandingin Valentine tahun kemarin, setengahnya lah (pengunjung). Belum tahu kalau hari H, semoga ramai. Biasanya ada pembeli datang hari H," ujarnya.

Sepinya pengunjung otomatis berdampak pada penurunan omzet penjual, hingga 50 persen. Sebelum covid-19, ia dapat menjual 50-100 ikat bunga dengan omzet penjualan minimal Rp2 juta. Namun, setelah pandemi maksimal jualannya hanya di kisaran 40-50 ikat.

"Sebelum covid paling sedikit (omzet) Rp2 juta sehari, tergantung pasar tidak bisa ditentuin. Tapi pas covid tidak sampai segitu, paling Rp500 ribu-Rp300 ribu," katanya.

Cerita Dina itu merupakan gambaran kondisi pedagang Pasar Bunga Rawa Belong secara umum. Ketika memasuki pasar, tampak para pedagang bunga dari tua hingga muda di antara kuntum bunga yang disajikan.

Sebagian dari mereka menata bunga pesanan, tapi mayoritas tampak bergerombol serta bersenda gurau satu sama lain sembari sesekali menyeruput kopi. Aktivitas itu dilakukan untuk menghilangkan jenuh menunggu pelanggan. Maklum, tak banyak pelanggan yang lalu lalang di pasar tersebut.

Meski pelanggan berkurang, Dini mengungkapkan harga bunga dari petani justru meroket jelang Hari Valentine. Jadi, ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga.

Kenaikan bunga dari petani tersebut berlangsung sejak sepekan ke belakang. Dini sendiri mengaku mengambil bunga dari petani di Bandung, Jawa Barat.

Misalnya, mawar dari Bandung yang dulunya dipatok Rp50 ribu-Rp60 ribu per ikat, menjelang Hari Valentine harganya lebih dari Rp100 ribu per ikat. Sedangkan, bunga karnesen dari Rp30 ribu-Rp35 per ikat menjadi Rp70 ribu- Rp80 ribu per ikat.

Kondisi tersebut, membuat pedagang bunga mengaku tidak berani mendatangkan stok dalam jumlah banyak. Sebab, harga dari petani mahal, sementara pembelinya bisa dihitung dengan jari.

"Tiap mau Valentine sama Imlek begitu (harga dari petani naik)," tuturnya.

Kondisi serupa disampaikan oleh Awai (23). Selama 7 tahun berdagang di Pasar Bunga Rawa Belong, ia mengungkapkan baru kali ini merasakan penjualan jelang Valentine tidak semekar tahun-tahun sebelumnya.

"Jauh dibandingin tahun lalu. Bisanya, valentine ramai (pembeli), barang ada saja, selalu habis. Ibaratnya kalau yang beli dulu 100 persen, paling sekarang 20 persen," ucapnya.

Sepakat dengan Dini, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak awal pandemi covid-19. Jumlah pengunjung berkurang karena PSBB serta menahan diri berbelanja ke pasar secara langsung.

Selain itu, tak banyak pedagang di Pasar Bunga Rawa Belong yang menjajakan kembang melalui online, sehingga mereka menggantungkan penjualan secara konvensional, berharap pada pengunjung yang berkunjung langsung.

"Paling 30 orang sehari. Dulu mah banyak karena PSBB jadi seperti ini," ucapnya.

Ironisnya, banyak bunga-bunga yang terpaksa dibuang karena tidak terjual, sehingga menjadi layu. Kondisi itu, kata, Awai menjadi hal yang lumrah selama pandemi ini.

"Banyak yang kebuang, kalau yang kebuang mah sudah tidak aneh lagi. Banyak.

Di satu sisi, ia mengaku pedagang juga terbebani dengan harga bunga yang melambung dari sisi petani. Menurutnya, harga bunga di tangan petani tersebut melambung karena tak banyak yang menanam bunga, lantaran beralih ke tanaman lain.

"Dulu banyak yang tanam tapi kondisi PSBB jadi tidak kepakai, kebuang. Jadi, ibarat daripada tanam bunga mending tanam yang lain," katanya.

Baik Dini dan Awai berharap ada keajaiban lonjakan penjualan pada hari H perayaan Valentine. Mereka juga berharap pandemi covid-19 segera berlalu sehingga penjualan bunga kembali mekar. (*)