Perusahaan Super Komputer China Masuk Daftar Hitam AS

Jakarta, Berita55 — Sebanyak 7 perusahaan teknologi China kembali masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat. Ketujuh perusahaan teknologi tersebut dituduh terafiliasi dengan militer.

Departemen Perdagangan Amerika menyebutkan, 7 perusahaan tersebut masuk dalam daftar entitas terlarang. Perusahaan-perusahaan Amerika karenanya diminta tidak menjalin kerja sama.

Dalam analisis Pemerintah Amerika di bawah kepemimpinan Joe Biden, 7 perusahaan tersebut beroperasi dalam bidang super komputer dan telah membantu pemerintah China memodernisasi program senjata pemusnah massal milik militer.

"Kapasitas super komputer sangat penting dalam pengembangan banyak hal, mungkin hampir semua hal senjata modern dan sistem keamanan nasional, seperti senjata nuklir dan senjata hipersonik," kata Menteri Perdagangan AS, Gina Raimondo.

"Departemen Perdagangan (AS) akan menggunakan seluruh otoritasnya untuk mencegah China memanfaatkan teknologi AS untuk mendukung upaya modernisasi militer yang tidak stabil ini," ujar Raimondo.

Ketujuh perusahaan tersebut adalah Tianjin Phytium Information Technology, Shanghai High-Performance Integrated Circuit Design Center, dan Sunway Microelectronics, serta empat perusahaan National Supercomputing Center di Jinan, Shenzhen, Wuxi, dan Zhengzhou.

Sejatinya, daftar hitam entitas bisnis China di Departemen Perdagangan AS bukan barang baru. Hal ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Namun, grafik daftar hitam entitas bisnis China meningkat tajam selama masa pemerintahan Donald Trump.

Beberapa perusahaan China terlebih dahulu masuk dalam daftar hitam PemerintahAS adalah Huawei,Guangzhou Haige Communications Group, China Communications Construction Co, Changzhou Guoguang Data Communications, dan China Electronics Technology Group Corp.

Saat ini disebutkan bahwa pemerintahan Joe Biden sedang meninjau ulang beberapa kebijakan Donald Trump di Departemen Perdagangan.

Namun, sejauh ini tampaknya para pejabat AS siap melanjutkan sikap konfrontatif dengan China. Rencana infrastruktur Biden misalnya, menyoroti ancaman strategis yang ditimbulkan oleh China dalam bidang teknologi dan R&D (Research and Development) atau penelitian dan pengembangan. (*)