5 Penyebab Vagina Berdarah Usai Berhubungan

Jakarta, Berita55 -- Vagina berdarah setelah berhubungan seks merupakan hal yang cukup umum terjadi. Menurut ahli obstetri dan ginekologi di Chicago, Nicole Williams, kondisi itu biasa disebut dengan perdarahan postcoital, mengacu pada perdarahan karena ada penetrasi ke vagina.

Seringkali, hal tersebut disebabkan oleh iritasi setelah berhubungan seks. Bukan hanya penetrasi penis yang bisa menyebabkan vagina berdarah, tapi juga segala jenis penetrasi bahkan dari jari atau sex toys.

Selain itu, vagina berdarah usai hubungan seks juga bisa menjadi tanda awal atau akhir dari masa menstruasi.

Ada beberapa hal lainnya yang menyebabkan vagina berdarah setelah berhubungan seks. Berikut 5 penyebab vagina berdarah setelah berhubungan seks.

1. Vagina luka

Vagina luka merupakan penyebab umum dari pendarahan usai berhubungan seks. Ada dua hal yang menyebabkan vagina terluka, pertama penetrasi yang kasar, atau vagina sedang dalam keadaan tidak siap saat penetrasi sehingga dalam kondisi sangat kering.

"Vagina luka bisa terjadi dengan seks normal atau seks yang kasar," kata Brandye Wilson-Manigat, dokter kandungan dari The American Congress of Obstetricians and Gynecologists, seperti dikutip Womens Health.

Biasanya vagina terlalu kering terjadi saat menyusui atau menjelang menopause. Vagina kering bisa menyebabkan luka sehingga mengakibatkan pendarahan.

Mengonsumsi kontrasepsi hormonal atau menggunakan pelumas bisa jadi pilihan Anda jika vagina terlalu kering.

Meski demikian, luka pada vagina lebih mungkin terjadi pada seorang yang belum pernah berhubungan seks, atau baru berhubungan seks kembali setelah sekian lama.

"Jika Anda sudah lama tidak berhubungan seks, kulit lembut di sekitar vagina akan tertarik karena penetrasi (microtear) dan menyebabkan luka," kata Williams.

2. Infeksi Panggul

Pendarahan selama atau setelah berhubungan seks juga bisa jadi tanda infeksi panggul.

Manigat mengatakan, ketika leher rahim terinfeksi, jaringan sekitarnya menjadi bengkak dan merah karena tubuh mencoba mengalirkan lebih banyak darah dan sel darah putih ke area tersebut untuk melawan infeksi.

"Ini membuat rahim terlalu sensitif dan terjadi pendarahan, meski tanpa rangsangan langsung," katanya.

Infeksi pasca kelahiran juga bisa menyebabkan pendarahan saat berhubungan seks, seperti infeksi klamidia atau gonore.

Jika Anda baru melahirkan dan mengalami pendarahan lagi setelah berhubungan seks, sebaiknya segera temui dokter. Dokter biasanya akan melakukan tes pap smear terlebih dahulu untuk melihat adanya penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS).

Namun tak semua IMS menyebabkan pendarahan, beberapa infeksi lain seperti infeksi bakteri BV atau jamur juga bisa membuat vagina berdarah saat berhubungan seks.

3. Polip serviks

Sebagaimana dikutip HelloSehat, polip serviks atau polip endometrium, adalah kemunculan jaringan lapisan rahim yang tumbuh terlalu banyak atau berlebihan.

Pertumbuhan polip serviks bisa menyebabkan vagina berdarah setelah berhubungan seks. Polip serviks yang dibiarkan juga bisa berkembang menjadi kanker rahim. Sebaiknya segera periksa ke dokter atau lakukan pap smear rutin untuk mencegah polip serviks.

4. Kehamilan awal

Pendarahan ringan bisa terjadi ketika Anda melakukan seks saat sedang hamil. Dilansir Healthline, ada beberapa kondisi yang menyebabkan ibu hamil mengalami pendarahan setelah berhubungan seks, seperti pendarahan implantasi, perubahan serviks, atau seks yang terlalu kasar.

Anda mungkin mengalami pendarahan setelah sel telur yang telah dibuahi ditanamkan di lapisan rahim. Meski tergolong pendarahan ringan, namun bisa terjadi terus menerus selama 2-7 hari.

Tidak jarang setelah Anda berhubungan seks saat hamil, akan keluar bercak darah bercampur dengan air mani atau lendir lainnya.

Saat masa kehamilan, rahim juga bisa lebih sensitif dan mudah berdarah saat berhubungan seks.

5. Servisitis

Meski namanya terdengar menakutkan, servisitis sebenarnya kondisi peradangan pada serviks atau rahim.

Dilansir Mayo Clinic, vaginitis adalah peradangan pada vagina yang menyebabkan keluarnya cairan, rasa gatal, dan nyeri.

Dalam beberapa kasus, peradangan ini terjadi karena infeksi akibat bakteri vaginosis (BV), infeksi virus, atau reaksi alergi dari produk pembersih organ intim.

Kondisi ini bisa dicegah dengan memastikan kebersihan organ intim, tidak menggunakan produk pembersih kewanitaan, dan mengenakan pakaian dalam katun. Jika peradangan tak membaik, segera kunjungi dokter. (*)