Serangan Siber Terjang Bisnis-bisnis di Seluruh Dunia

Jakarta, Berita55 -- Bisnis-bisnis di seluruh dunia pada Sabtu (3/7) berusaha mengendalikan sebuah serangan ransomware yang telah melumpuhkan jaringan komputer. Ransomware adalah serangan siber di mana pelakunya meminta uang tebusan. Di AS, situasinya diperumit dengan minimnya pegawai yang bekerja pada akhir pekan Hari Kemerdekaan.

Belum diketahui berapa organisasi yang dimintai uang tebusan jika ingin jaringan komputernya dipulihkan. Tapi beberapa periset keamanan siber memprediksi serangan yang menarget para pelanggan pemasok piranti lunak Kaseya itu bisa jadi merupakan salah satu serangan ransomware terluas yang pernah terjadi.

Insiden ini terjadi menyusul beberapa serangan besar dalam beberapa bulan belakangan yang menjadi sumber ketegangan diplomatik antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai apakah Rusia telah menjadi surga bagi geng-geng kriminal siber.

Biden pada Sabtu (3/7) mengatakan belum tahu pasti siapa yang bertanggung jawab, tapi mengisyaratkan bahwa AS akan merespons apabila ada kaitannya dengan Rusia.

"Apabila atas sepengetahuan dan/atau konsekuensi Rusia, maka saya beritahu Putin saya kami akan merespon," kata Biden.

"Kami tidak tahu pasti. Perkiraan awalnya bukan pemerintah Rusia."

Para pakar keamanan siber mengatakan geng REvil, sindikat ransomware besar asal Rusia, sepertinya berada di balik serangan yang menarget penyedia layanan piranti lunak Kaseya. (*)