Pesan Tersembunyi dalam Arsitektur Masjid Istiqlal

Jakarta, Berita55 -- Masjid Istiqlal tidak hanya dibuat untuk menonjolkan bahwa ada masjid terbesar di Asia Tenggara. Tidak juga dibangun sekadar untuk memperlihatkan bahwa ada bangunan peribadatan di Indonesia yang modern.

Lebih dari itu, Istiqlal juga menyimpan makna-makna di setiap bangunannya.

Istiqlal dirancang oleh Friedrich Silaban. Seorang arsitek yang juga merupakan anak dari pendeta Protestan. Meski begitu, Friedrich tak mengasal dalam merancang masjid Istiqlal.

Panogu Silaban, anak dari Friedrich Silaban menjelaskan, saat perancangannya, ayahnya melakukan riset yang serius.

Sang ayah, kata dia, mencari tahu esensi bukan hanya estetika. Ia membaca banyak literatur tentang Islam dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh ulama.

"Sebelumnya dia sudah survei, prinsipnya survei sebelum membuat rancangan," cerita Panogu pada pekan lalu.

"Dulu terlibat juga para kyai. Patokannya esensi, sistem tropis dan keinginan ulama saat itu," imbuhnya.

Selain itu, Friedrich juga punya konsep yang jelas dalam perancangan, yaitu konsep keagamaan dan kebangsaan. Tak heran, jika makna dari simbol-simbol yang ada di masjid Istiqlal memuat kedua itu.

Hal itu diakui oleh Wakil Kepala Bidang Peribadatan Masjid Istiqlal, Abu Hurairah. Dia mencontohkan simbol yang memiliki makna keagamaan seperti pada jumlah tiang.

Masjid Istiqlal ditopang dengan 12 tiang. Angka 12 melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh di tanggal 12 Rabiul Awal.

Ia juga menjelaskan makna di balik menara setinggi 6.666 sentimeter. Angka ini melambangkan keseluruhan jumlah ayat dalam Al Quran. (*)