Tersangka Teroris Makassar Cabut Praperadilan, Polda Bantah Ada Tekanan

Makassar, Berita55 - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Sulsel) membantah tudingan menekan tersangka teroris di Makassar bernama Wahyudi untuk mencabut gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Makassar.

Polda Sulsel menilai keputusan istri tersangka teroris mencabut gugatan praperadilan merupakan hak mereka.

"Praperadilan dicabut itu kan hak mereka. Tidak ada penekanan saya rasa, ditekan dan sebagainya itu tidak ada," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulsel, Komisaris Besar E Zulpan kepada wartawan, Kamis (1/7).

Zulpan juga mengungkapkan Detasemen Khusus 88 Antiteror telah mengirim 56 tersangka teroris ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Zulpan mengatakan 57 tersangka teroris tersebut diboyong ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Lion Air.

"Tadi jam 11 siang diberangkatkan ke Jakarta menggunakan Lion (Air). Jadi semuanya tersangka yang 56 termasuk satu yang sakit," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Muslim Makassar, Abdullah Mahir mengatakan istri tersangka teroris Wahyudi mendatangi rumahnya pada Rabu (30/6) untuk menyampaikan mencabut gugatan praperadilan di PN Makassar. Abdullah mengaku, gugatan praperadilan dicabut karena kliennya mendapatkan informasi dari suaminya mendapatkan ancaman jika tetap mengajukan praperadilan.

"Klien kami datang ke rumah. Dia bilang Kak mauka cabut gugatan ku. Kenapa dek, dia cerita mi, suamiku sudah tidak tahan mi tekanan di dalam, diancam-ancam mau dihukum berat lah, pokoknya dijadikan musuh negara lah," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Kamis (1/7).

Ia mengaku kliennya akan diceraikan oleh tersangka jika tidak mencabut gugatan praperadilan. Akibat ancaman tersebut, akhirnya kliennya memilih untuk mencabut gugatan praperadilan.

"Saya pengacara, kalau klien ingin mencabut gugatannya maka pihaknya ikut. Kuta tidak mungkin bertahan kalau klien kami yang ingin mencabut gugatannya," kata dia.

Abdullah menambahkan pihaknya baru akan mencabut gugatan praperadilan kliennya saat sidang pada tanggal 7 Juli 2021 nanti.

"Belum. Sidang kan tanggal 7, jadi nanti pas persidangan baru saya cabut, ajukan surat pencabutannya," ungkapnya.

Sementara satu kliennya lagi yakni istri Muslimin tetap melanjutkan gugatan praperadilan. "Yang satu tetap ji. Itu kan terpisah memang dua nomor perkara. Satu nomor 7, satunya lagi nomor 8. Kalau tidak salah Syamsinar nomor 8 perkaranya," ucapnya.

Sekadar diketahui, istri dua tersangka teroris yakni Muslimin dan Wahyudi mengajukan praperadilan ke PN Makassar. Gugatan praperadilan diajukan karena pihaknya merasa ada prosedur penangkapan dilakukan Detasemen Khusus 88 Antiteror tidak sesuai dengan KUHPidana. (*)