Harga Bitcoin Kembali Naik Nyaris 7 Persen

Jakarta, Berita55 -- Harga bitcoin naik hampir 7 persen pada Senin, (1/2). Aset-aset berisiko menguat usai penurunan obligasi pekan lalu.

Dikutip dari Antara, Citi mengungkap mata uang kripto paling populer itu berada pada titik kritis dan bisa menjadi mata uang pilihan untuk perdagangan internasional.

Citi melihat dengan dukungan dari perusahaan seperti Tesla Inc dan Mastercard Inc, bitcoin bisa menjadi awal dari transformasi besar-besaran ke arus utama.

Sementara, Goldman Sachs telah memulai kembali perdagangan mata uang kripto dan akan mulai menangani bitcoin berjangka dan instrumen derivatif kontrak perdagangan mata uang berjangka untuk nasabahnya minggu depan.

"Penarikan yang paralel dengan ledakan gelembung kripto pada 2017 mungkin tidak memperhitungkan kemajuan teknologi sejak saat itu," kata Paolo Ardoino, Direktur Teknologi di Bursa Mata Uang Kripto Bitfinex.

Bitcoin mencapai rekor tertinggi, yakni US$58.354 pada Februari lalu. Citi melihat nantinya di masa depan bitcoin dapat menjadi mata uang pilihan untuk perdagangan internasional.

"Ada sejumlah risiko dan hambatan yang menghalangi kemajuan bitcoin. Tapi menimbang rintangan potensial ini terhadap peluang mengarah pada kesimpulan bahwa bitcoin berada pada titik kritis," tulis analis Citi.

Mata uang kripto terbesar di dunia itu melonjak 6,8 persen menjadi US$48.330 dalam perdagangan Senin sore (1/3). Saingannya yang lebih kecil Ethereum terangkat 6,8 persen menjadi US$1.517.

Hingga saat ini, bitcoin yang dirancang sebagai alat pembayaran masih sedikit digunakan untuk perdagangan di negara-negara besar. Pasalnya, uang kripto ini terhambat oleh volatilitas tinggi dan transaksi yang relatif mahal.

Namun, bitcoin telah mendapatkan daya tarik di beberapa pasar negara berkembang, seperti Nigeria, selama setahun terakhir. Citi mengungkap transformasi dramatis ke mata uang de facto perdagangan dunia status yang saat ini dipegang oleh dolar akan bergantung pada perubahan pada pasar bitcoin.

Perubahan ini memungkinkan partisipasi kelembagaan yang lebih luas dan pengawasan lebih ketat oleh regulator keuangan. Namun, pergeseran dalam lingkungan ekonomi makro juga dapat membuat permintaan bitcoin tidak terlalu mendesak.

Lonjakan minat baru-baru ini, yang dipicu oleh narasi bahwa bitcoin dapat bertindak sebagai lindung nilai terhadap inflasi, telah mendorongnya ke rekor tertinggi dan kapitalisasi pasar satu triliun dolar AS. (*)