Laporan WHO-China soal Asal Corona Dikritik Banyak Negara

Jakarta, Berita55 — Amerika Serikat dan 13 negara lain mengkritik laporan hasil penelitian WHO dan China mengenai asal-usul virus corona yang dianggap bias dan tak transparan dalam mengungkap penyebab pandemi Covid-19 global tersebut.

Melalui situs resmi pemerintahan, AS merilis surat bersama ketiga belas negara lainnya yang terdiri dari Australia, Kanada, Ceko, Denmark, Estonia, Israel, Jepang, Latvia, Lithuania, Norwegia, Korea Selatan, Slovenia, dan Inggris.

Di awal pernyataan bersama itu, keempat belas negara tersebut menegaskan bahwa mereka mendukung analisis dan evaluasi yang transparan, independen, dan bebas intervensi terkait asal virus corona.

"Untuk itu, kami menyampaikan kekhawatiran bersama terkait studi WHO di China, sambil menekankan kepentingan untuk bekerja sama untuk mengembangkan proses independen, efektif, transparan, dan berbasis ilmu untuk evaluasi pandemi yang belum diketahui di kemudian hari," tulis mereka.

Keempat belas negara ini menyampaikan kekhawatiran mereka atas laporan WHO yang baru dirilis pada Selasa (30/3) waktu setempat. Laporan WHO itu memang dianggap bias karena melibatkan pihak China dalam penelitiannya.

Dalam laporan akhir yang ditulis bersama dengan para ilmuwan China, tim pimpinan WHO menyatakan bahwa virus itu kemungkinan ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain

Laporan itu juga menegaskan bahwa kebocoran laboratorium sangat tidak mungkin menjadi penyebab penyebaran virus corona.

Sejumlah pihak dan ahli kesehatan menyayangkan hasil penyelidikan WHO ini karena dianggap tidak banyak menjawab pertanyaan terkait asal muasal kemunculan dan penyebaran virus corona.

Setelah laporan ini dirilis, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sendiri mengatakan bahwa China merahasiakan data terkait asal-usul virus corona kepada tim penyelidik yang datang ke Wuhan.

Menurut Tedron, China menolak memberikan data mentah tentang kasus awal Covid-19 sehingga mempersulit tim memahami pandemi global bermula.

"Saya berharap studi kolaboratif di masa mendatang mencakup berbagi data yang lebih tepat waktu dan komprehensif," ujar Tedros, sebagaimana dikutip Reuters.

Tedros pun mengatakan bahwa pihaknya perlu menggelar penyelidikan lebih lanjut dan mengirim lebih banyak misi ke China untuk menguak misteri corona.

"Saya tidak percaya bahwa penilaian ini cukup ekstensif. Data dan studi lebih lanjut sangat dibutuhkan untuk mencapai kesimpulan yang lebih kuat," katanya. (*)